Pages

Senin, 25 Februari 2013

The Chick’s Diary


The story begins in the daylight, when the sun shines brightly...
1st January 2013, a beautiful lady came from far with a gloomy face...

This is my mama,, and me, having little run behind.. She is a Kate so she has ‘not-too-high-and-big-posture’. But I am telling you that she’s strongly confident, because she’s the most beautiful ayam in this place. My mama said that it was tiring day when she came from her town, Jember. At that time, she was so scared and felt of sorrow for days, until she found a brondong cock. And guess what, this brondong now becomes my papa.

My mama said, this brondong cock, mama calls him so because he is younger than her, gave my mama comfort, safety, and rice (co cwiiiiiiittt). And like other chicks, I don’t really know the process. Papa loves mama, mama loves papa, and here’s the first egg they had..

After fifteen days...

At day 15th, 24th January 2013, mama began ‘anggrem-ing’ the eggs..

13th February 2013, in the early morning…

Tadaaaaa…. The beautiful little chick was born… it’s me guys!!!! The beautiful me!!!

Senin, 05 November 2012

Dunyo Karang Abang

Karang abang, Gusti, dunyo karang abang
Terengah-engah hari ini teh pagiku bertutur
Kala kusandingkan dengan koran penuh luka oleh bara
Tentang mencekamnya hari saat siang, tentang kelamnya hari walau penuh cahaya
Tentang senjata-senjata tak punya mata
Tentang mata-mata merah penuh amarah
Tentang adu kuat institusi, gengsi, arogansi, hingga harga diri

Karang abang, Gusti, dunyo karang abang
Berbusa-busa hari ini roti pagiku bercerita
Kala kuletakkan di depan televisi beritakan bara
Tentang percikan api dari kabel-kabel mengular semrawut
Tentang luapan air oleh sampah tak mau diatur
Tentang longsor, gunung meletus, angin badai, yang seraya kompak mendera menyerbu
Tentang tangan yang tak menuruti kata sang hati, atau hati yang menurut saja bisikan nafsu

Karang abang, Gusti, dunyo karang abang
Bercucuran pagi ini keringat kenari kecilku berkisah
Kala kubiarkan ia terbang mencari warta akan bara
Tentang kutil-mengutil proyek panas
Tentang kongkalikong harga beras
Tentang pertarungan seru suku, agama, dan ras
Tentang si anu yang gemar bobol uang kas

Karang abang, Gusti, dunyo karang abang
Negeri ini, Gusti, sedang dicekik lintah
Lintah-lintah raksasa yang tak hanya menghisap darah, tetapi bahkan seluruh kehidupan
Uang rakyat dianggap sebagai upeti
Moral bangsa diputar-putar layaknya dadu di meja judi
Masa depan anak-anaknya diserahkan saja pada kehendak globalisasi
Apalagi segala tetek bengek suku, agama, dan ras hanya akan dihargai sebagai barang komoditi
Persetan dengan persatuan
Persetan dengan budaya
Persetan dengan moral
Persetan dengan Negara
Persetan dengan harga diri

Inilah karang abang, Gusti, dunyo karang abang..

Sidoarjo, 4 Nopember 2012

Minggu, 26 Agustus 2012

Meraba Hati

Suasana mendung seperti kali ini memang sering membuat hati seseorang ikut gelap. Apalagi mereka yang terlalu serius dan tidak suka menertawakan keadaan, akan semakin muramlah semestanya. Dalam hal ini aku tidak sedang membicarakan siapapun. Tapi itulah kesimpulan yang kuambil secara acak dari pengamatanku atas kehidupanku yang entah sudah masuk hitungan tua atau masih hijau ini.

“Aku bilang juga apa. Dari dulu sudah kuperingatkan kau ini, berhati-hatilah dengan mulutmu itu. Jangan suka menuduh sembarangan begitu !.”

Aku hanya diam termangu di dalam bilik kayuku saat Sumi mulai dengan dakwah panjangnya. Bersembunyi dalam dekap bantal kempir berbalut ulas kumal kesayangan. Entah apa sebenarnya warna ulas bantal itu dulu. Mungkin putih, atau mungkin juga ungu. Yang jelas sekarang ini warnanya krem dengan sedikit ada bercak gambar bunga berwarna ungu. Begitu sayangnya aku padanya hingga apapun suasana alamku, kuijinkan ia menjadi yang kedua yang tahu warna hatiku. Seolah akan kutemukan taman indah dengan bunga wangi berjuta di sana. Yang akan mengelus jiwa laraku saat sedih, dan akan ikut bertepuk riang saat bahagia. Seperti saat ini, kala ku merasa begitu menyesalnya atas gerak lincah sepotong daging tak bertulang dengan panjang kurang lebih sepuluh sentimeter bernama lidah.

Aku memang suka terlalu cepat mengambil kesimpulan yang kadang ternyata menjadi sangat merugikan. Aku sadar akan kebiasaan burukku. Aku sangat tahu itu. Aku pun tahu dengan sangat akan seperti apa konsekuensinya jika kulakukan lagi. Tetapi ya sudahlah. Aku merasa sudah cukup merasa bersalah. Tak usah ditambah dengan omelan tak berujung dan tak mengenal tepi seperti itu. Bukan maksudku tidak ingin mendengarkan nasehat, tapi aku ingin sejenak saja dulu melupakan rasa tak nyamanku atas apa yang telah kuperbuat.

Seharian kemarin aku uring-uringan mencari bukuku yang hilang entah kemana. Bukan saja karena buku itu adalah referensi utama tugas minggu ini, tapi juga karena di sanalah aku menyimpan surat dari abangku yang sedang merantau. Seisi kamar kuobrak-abrik tak karuan, bawah kasur, belakang lemari, hingga sudut-sudut tak tersentuh kamar pun tak luput dari mataku. Bahkan aku pun sempat marah-marah pada pak Gani yang biasa membersihkan taman depan tempat biasa aku belajar. Aku menuduhnya menyembunyikan bukuku karena tak segera dibereskan selesai belajar. Bahkan Sumi pun tak luput dari uring-uringku. Karena dia kuanggap paling tahu tentang barang-barangku selain aku sendiri.

Hingga esok paginya, kupaksa diriku mengawali hari seperti biasa. Berangkat pagi hanya dengan pisang goreng mak Yati yang kadang terasa terlalu manis di lidahku. Berjalan sok riang sembari bersenandung lirih takut menyaingi si pipit pagi. Menyapa mbah Gito yang caring di pertigaan pertama gang kost, pak Pendik di kebun dekat kuburan, dan bu Wina pemilik toko “Subur” ujung gang yang tampaknya memang benar-benar subur. Begitu asik dengan diriku sendiri hingga tak pedulikan seseorang yang tiba-tiba sudah mensejajarkan kakinya dengan langkahku.

“Mbak Naya?”, sapanya.

“Eh, sinten nggeh?”, tanyaku kaget.

“Dari tadi tak panggil-panggil, ndak semaur, sepertinya lagi sibuk sendiri. Kulo Bagus, tadi disuruh pakdhe Munir untuk ngaturaken niki”, jawabnya sembari menyerahkan bungkusan coklat dan amplop putih lecek dengan tulisan latin ruwet yang cukup kukenal.

Kecanggihan alat komunikasi saat ini tak pernah membuat ayahku tergiur tuk mencicipi. Katanya, tak ada bahagia-bahagianya membaca sms. Tak bisa membaca secara langsung tulisan tangan si pengirim. Maka jadilah aku, yang meskipun juga memanfaatkan telepon genggam, masih sering bertandang ke kantor pos terdekat. Tapi kali ini aku cukup terkejut dengan surat bapak. Tidak biasanya datang di awal bulan seperti ini. Padahal dua hari yang lalu aku pulang. Apalagi dengan menyuruh si Bagus untuk menyampaikannya, seingatku kantor pos tidak ada jadwal libur minggu ini. Segera setelah sampai di kelas aku membukanya.

Teruntuk ananda:
Naya Kamila Munir
Di bumi rantau

Assalamualaikum.

Nduk ayu, piye kabarmu? Semoga selalu diberi sehat sama Yang Maha Kuasa. Ahamdulillah bapak lan ibu sehat wal afiat. Piye ujianmu? Semoga diparingi lancar. Ojo nganti waleh lan males nyuwun maring Gusti kang akarya jagat. Sedione bapak nulis surat ini mau mengirimkan bukumu yang ketinggalan di rumah supaya sampean gak perlu pulang ngambil. Sing ati-ati njaga ati. Mugi Gusti Pengeran paring sehat sedaya. Amien.

Nduk ayu,
Salam rindu bapak, ibu, dan keluarga

Wassalamualaikum.


Bungkusan coklat itupun segera kubuka, sebuah buku, lengkap dengan sepucuk surat dari abangku di dalamnya. Semerta aku tertegun. Begitu ceroboh. Begitu tak mampu mengendalikan diriku sendiri.

Segera aku menoleh pada Sumi yang duduk disampingku, “maaf ya,” kataku.
“minta maaflah pada pak Gani,” sahut Sumi.

“tidak perlulah,” jawabku sekenanya.

“Aku rasa kau mulai keterlaluan akhir-akhir ini, Nay. Kau tahu saat seperti ini kau tidak bisa begitu saja melepas tangan. Kau harus berani menunjukkan warna mukamu dan bertanggung jawab. Segeralah minta maaf sana!” Lanjut Sumi dalam khotbahnya.

Entahlah, semakin tua aku semakin lelah untuk menyiapkan hati. Sering kali terlintas dalam benakku adalah untuk lari dan kemudian segera berusaha melupakannya. Berharap segalanya akan segera berlalu. Dari dulu yang kuangankan dalam setiap harapku adalah kemustahilan yang lahir dari negeri sakura dalam kartun fenomenal Doraemon. Ya, aku ingin punya kantong ajaib Doraemon. Kala aku tak terkendali telah menyakiti hati seseorang, aku memiliki mesin pencipta gembira untuknya. Disaat aku begitu mudahnya berbuat sesukaku hingga di kemudian hari tak mampu lagi kumemaafkan diriku sendiri, aku memiliki mesin penghapus memori. Dan ketika suatu masa aku sangat merindukan keluargaku atau mungin siapapun itu dalam keterbatasanku untuk segera bertemu, aku memiliki pintu ajaib. Aku dapat menciptakan bahagia bagi orang lain, sebagaimana akan kudapatkan damai dalam hati.

Tapi itu hanyalah angan, dan selamanya akan hanya sebatas itu. Aku sadar sepenuhnya tak mungkin kudapatkan itu semua. Tak ada bahagia tercipta dari sebentuk mesin khayalan. Segalanya harus melalui proses panjang usaha manusia. Aku percaya itu walau seringkali aku pun mengingkarinya. Manusia membutuhkan sebuah tempat untuk bernaung dari rasa sedih, takut, malu, marah, bahkan bahagianya. Ada yang mendapatkan naungan di arah yang benar yakni berserah pada Yang Maha Kuasa. Adapula yang berlari jauh kepada sesuatu yang lebih dekat dengannya. Sebuah naungan yang tercipta dari lamunan dan angannya sendiri. Sebagai sebuah pengakuan atas ketidakmampuannya meraih keberanian untuk sesuatu yang lebih abadi.

Aku merasa tidak sepenuhnya menghindarkan diri dari berani. Hidup merantau seperti ini pun karena aku berani. Berani melawan kehendak adat kuno ditengah dunia modern seperti ini. Berani menerima tantangan emak dan abah untuk selalu mendapatkan nilai terbaik sebagai kompensasi atas sebuah perlawanan untuk sebentuk kemegahan ukiran cita. Aku memang hidup di jaman yang serba modern, tapi aku tinggal di lingkungan dursetut pemuja adat istiadat beratus tahun yang lalu. Di desaku, anak gadis tak perlu sekolah tinggi, cukup sebatas wajib belajar sembilan tahun dari pemerintah saja. Bahkan kalau perlu tak usah menuruti cara hidup yang ditentukan pemerintah. Cukup dengan menuruti apa kata mbah-mbah terdahulu, toh mereka lebih banyak memiliki pengalaman hidup sebagai manusia daripada tuan-tuan di pemerintahan.

Dan di sinilah, di perantauan ini, kutemukan seorang sahabat dalam temaram senjanya dunia. Sumi seorang yang baik, selalu tanggap akan apa yang terjadi. Ia seorang sahabat yang sempurna, mau meluangkan waktu untuk mendengar dan menasehati walau lebih sering nasehatnya bernada omelan. Sumi memang wanita biasa, tapi ia seorang penyayang yang luar biasa. Segala yang terjadi di dini usianya telah membentuk sosok kokoh penuh kharisma. Seringkali aku dibuat kagum sekaligus malu padanya. Sesuatu yang menurutku sebuah ketidakadilan harus menimpanya. Bagaimana Sumiku dibenci oleh dunianya hanya karena ia putri seorang mantan dukun di desanya. Sang dukun yang ternyata “bisa” sakit pun akhirnya pergi. Meninggalkan seorang istri dan putri semata wayangnya yang masih berusia lima tahun. Nasib buruk seakan tak ingin segera melepaskan diri dari hidup Sumi. Ibunya kemudian menyusul sang belahan jiwa ke alam sana. Ia pun tinggal dengan satu-satunya kerabat yang dimilikinya. Seorang bibi luar biasa cerewet tapi lumayan baik hati karena berkenan menyekolahkannya hingga kini. Tak cukup itu, lelaki yang pernah dicintainya saat ia mulai mengenal cinta pun hanya bertahan hingga sapi brama warisan sang ayah miliknya berpindah tangan pada tengkulak di pasar hewan. Sumiku sayang, Sumiku malang, tak sepeser pun hasil penjualan itu masuk dompet kain berwana abu-abu miliknya. Tapi di sanalah dia berdiri kini, sebagai gadis kuat tak gentar oleh apapun jua. Segala riwayat hidupnya mengajarkannya semua akan getir manis kehidupan. Mengajarkannya bahwa satu hal yang paling pasti dalam kehidupan ini adalah ketidakpastian itu sendiri.

Dan akhirnya di sinilah aku, Naya Kamila. Seorang mahasiswi semester tiga yang masih saja belajar meraba. Meraba cermin diri, meraba hati sendiri, meraba jiwa untuk mandiri.


يَارَبِّ يَاخَيْرَ كَافِى أُحْلُلُ عَلَيْنَاالْعَوَافِى
فَلَيْسَ شَيْئٌ ثَمَّ خَافِى عَلَيْكَ تَفْصِيْلٌ وَإِجْمَالْ
يَارَبِّ عَبْدُكْ بِبَابِكْ يَخْشَى أَلِيْمَ عَذَابِكْ
وَيَرْتَجِى لِثَوَابِكْ وَغَيْثُ رَحْمَتِكْ هَطَّالْ


Senin, 06 Agustus 2012

Hikayat dari Kaki Gunung Puri

*Dongeng Sebelum Tidur 2

Dahulu kala, dikisahkan ada sebuah desa kecil di kaki gunung Puri. Desa itu begitu istimewa hingga siapapun yang melihatnya semerta akan terpesona dan terkagum. Keindahannya tidak saja berasal dari paduan warna-warni bunganya, akan tetapi juga berasal dari sebuah keajaiban yang terjadi setiap harinya. Sebuah keajaiban yang tidak terjadi di desa-desa yang lain. Sebuah keajaiban sebagai rahmat dari yang Maha Kuasa. Setiap warganya hidup dalam kesejahteraan senantiasa.

Konon, penduduk desa ini berasal dari satu keturunan yang sama, pasangan suami istri yang sangat taat beribadah. Pasangan suami istri ini hingga usia senjanya belum juga dianugerahi seorang anak. Mereka pun kian giat beribadah memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar segera dikabulkan permohonannya. Akhirnya setelah bertahun-tahun berdoa dan berusaha, pasangan ini pun dianugerahi dua bayi kembar lelaki dan perempuan. Bahagialah suami istri tersebut dan mereka pun semakin giat bersujud beribadah kepada yang Maha Kuasa sebagai ungkapan rasa syukur.

Karena ketaatan pasangan itu Tuhan pun kembali memberi mereka kenikmatan yang sangat besar. Setiap harinya, saat matahari terbit, datanglah seekor burung besar dengan membawa berbagai macam makanan yang sangat lezat untuk sarapan mereka. Begitu juga saat matahari sedang berada di atas kepala dan akan tenggelam. Burung besar itu datang membawa makanan tiga kali dalam sehari. Mereka pun semakin bergembira dan tak henti-hentinya bersyukur. Setiap waktu setelah memandikan dan memberi makan anak-anaknya, mereka kembali beribadah dan bersujud. Hingga tanpa disadari, mereka telah melakukan satu kesalahan besar yang akan berakibat fatal. Mereka lupa akan satu hal, yaitu mengajari anak-anaknya untuk ikut rajin bersyukur dan beribadah. Selama ini anak-anak yang dulu sangat diidamkannya itu hanya tahu bahwa semua makanan akan siap saat matahari terbit, di atas kepala, dan saat akan tenggelam. Anak-anak itu hanya tahu caranya bermain dan menikmati hidup. Mereka tidak pernah diajak untuk ikut bersimpuh dan bersujud dalam syukur atas kurnia Tuhan.

Hingga pada suatu hari, saat mereka kian renta, saat kedua putra-putrinya telah memberi mereka cucu-cucu yang lucu, pasangan suai istri itu pun meninggal.
Hari demi hari, tahun demi tahun keturunan pasangan suami istri itu pun semakin banyak dan mendiami setiap pelosok desa itu. Mereka enggan untuk pergi jauh dari tempat itu, karena itu berarti mereka harus mencari makanan dan penghidupan sendiri. Sedangkan, di desa itu, burung besar pembawa makanan masih senantiasa datang. Tidak hanya cukup untuk satu dua orang saja, akan tetapi untuk seluruh penduduk desa. Penduduk desa yang menjadi terbiasa dengan gaya hidup yang manja itu pun menjadi semakin bermalas-malasan. Tidak ada lagi yang pergi keluar rumah untuk bekerja, bahkan tidak pernah ada lagi yang bersimpuh bersujud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Mereka menjadi terbiasa dengan segala kemudahan yang ada. Semakin hari mereka semakin bergantung dan berharap pada sang burung besar pembawa makanan. Bahkan mereka pun mulai memuja-muja, menyembah-nyembah, dan mengagung-agungkan sang burung besar pembawa makanan. Mereka lupa, mereka lalai, bahwa burung itu datang atas perintah Tuhannya, Tuhan mereka, Allah yang Maha kuasa, sebagai ujian untuk keimanan mereka.

Hingga, tibalah saat itu, saat ketika burung itu berhenti datang. Sehari, seminggu, sebulan, hingga bertahun-tahun dan selamanya. Akhirnya, penduduk yang lalai itupun menghilang tak berbekas. Mati dalam kelaparan mereka. Mati dalam kelalaian mereka. Mati dalam kekufuran mereka.


Refleksi sederhana, An-Nahl: 112


And Allah presents an example: a city which was safe and secure, its provision coming to it in abundance from every location, but it denied the favors of Allah . So Allah made it taste the envelopment of hunger and fear for what they had been doing.


Sidoarjo, 7 Agustus 2012

Kamis, 26 Juli 2012

Legenda Tikus Berdasi

*Dongeng Sebelum Tidur 1

Dikisahkan, pada jaman dahulu kala ada sebuah negeri antah berantah yang sangat dikenal dengan keelokan alaminya. Sebut saja negeri Z. Negeri dengan hamparan dataran hijau nan subur yang sangat luas. Negeri dengan bentangan lautan biru yang seakan tak ada ujungnya. Berjuta-juta jenis tanaman yang ditanam atau ditancapkan saja pada buminya dapat tumbuh disini. Berjuta-juta macam ikan dapat dengan leluasa hidup dan berkembangbiak di airnya. Hewan apapun yang ada di hutan-hutan dan di daratannya akan dengan senang hati turut menjaga kelestarian. Sejauh mata memandang adalah hamparan hijau dan biru. Penduduknya pun hidup selaras dan sehati dengan alam di sekitarnya. Saling memberi dan menerima, hormat-menghormati, dan saling mengasihi. Mereka hidup dalam sebuah ajaran untuk kehidupan yang arif, kehidupan yang damai. Sebuah kekayaan dan kearifan negeri yang ternyata menimbulkan kedengkian di hati para tetangganya.

Para tetangga yang iri dengan kekayaan alami negeri itupun akhirnya berkumpul dan berembug. Satu sama lain saling mengemukakan kedengkian masing-masing terhadap negeri itu. Mengapa pohon A tidak bisa tumbuh di tanah B tapi bisa tumbuh subur di tanah Z. Mengapa buah C tak semanis bila ditanam di tanah Z. Mengapa hewan B tak ditemukan di tanah C malah berkembang biak dengan pesat di tanah Z. Mengapa ini, mengapa itu, dan lain sebagainya.

Kemudian, dalam keriuhan perkumpulan itu berdirilah seorang tua di antara mereka, seorang pemimpin dari negeri H, sebuah negeri yang terletak di sebelah barat negeri Z. Dengan penuh wibawa, orang itu menenangkan keriuhan dan mulai berkata, “Sahabat-sahabatku para pemimpin negeri, hari ini kita berkumpul di sini bukanlah untuk saling memperdengarkan keluhan-keluhan atas negeri kalian masing-masing, bukan pula untuk saling menceritakan kedengkian masing-masing, kita berkumpul di sini adalah untuk mencari titik tengah dan untuk mencari kesepakatan bersama atas sebuah solusi agar kekayaan negeri Z segera menjadi milik kita bersama. Negeri Z itu sudah terlampau lama menikmati kekayaan negerinya sendiri. Bukan salah kita jika kita mendapatkan negeri yang kurang subur, tapi adalah kewajiban kita untuk mencari dan mendapatkan tanah yang lebih subur. Oleh karena itu sahabat-sahabatku para pemimpin negeri, aku mengusulkan untuk segera melakukan invasi ke negeri Z.”

Seluruh pemimipin negeri pun menyetujui usul tersebut. Mereka pun segera mempersiapkan penyerangan terhadap negeri Z. Hingga tibalah hari itu, hari ketika beribu-ribu pasukan menyerbu di pagi buta. Negeri Z yang aman dan tenteram itu pun terkejut bukan kepalang. Dengan segala kemampuan mereka berusaha mempertahankan kedaulatan. Para penjajah itu pun dengan senang hati meladeni kegigihan mereka. Darah dimana-mana, mayat bergelimpangan, api pun berkobar di segala penjuru. Akan tetapi, sungguhpun para penjajah itu berusaha sekuat tenaga untuk melumpuhkan rakyat negeri Z, mereka tak segera mampu melakukannya. Rakyat negeri Z adalah orang-orang yang sangat tangguh, mereka terbiasa bekerja keras, mereka pun selalu diajarkan untuk selalu menjaga kesatuan dan persatuan. Maka usaha untuk menyerbu mereka pun dengan singkat dapat dipatahkan. Para pemimpin negeri tetangga itu pun mulai gelisah. Mereka tak ingin penyerbuan ini sia-sia, pun mereka tak ingin pasukannya terlalu banyak yang menjadi korban. Mereka pun segera berkumpul dan berembug kembali. Kali ini dengan wajah yang sangat gelisah.

“Kita tidak bisa membiarkan ini berlangsung terus menerus”, kata salah seorang diantara mereka.

“Mereka terlalu kuat, mereka begitu bersatu, kita harus membuat mereka terpecah. Kita harus segera menemukan titik lemah mereka”, kata yang lain.

Lalu berdirilah pemimpin dari negeri H, “Baiklah sahabat-sahabatku, kita telah menyaksikan sendiri betapa mereka tak bergeming dengan peperangan penuh kekerasan ini. Maka dari itu, kita harus membuat sebuah strategi baru, aku mengusulkan, sebuah peperangan dalam diam.”

“Apa maksudmu?”, bertanya salah seorang diantara mereka.

“Sebuah peperangan yang bahkan mereka tidak akan menyadari keberadaannya, sebuah peperangan yang akan menguliti setiap lapis kehidupan masyarakatnya, sebuah peperangan yang akan sangat menghancurkan. Dalam perang ini kita tak perlu menyiapkan pasukan, karena darah yang akan tertumpah hanyalah darah rakyat mereka. Dalam perang ini kita tak perlu menyiapkan dana yang besar, karena nantinya mereka sendirilah yang akan menyerahkannya pada kita. Dalam perang ini kita hanya akan duduk nyaman sambil menonton mereka saling menyikut, menjegal, bahkan membunuh. Mereka akan hancur dengan tangan dan kaki mereka sendiri. Akan tetapi kehancuran mereka ini bukanlah kehancuran yang kita inginkan. kehancuran yang sebenarnya adalah ketika akhirnya mereka datang kepada kita dan menyembah-nyembah untuk diberi pertolongan. Pada saat itu tiba, kita akan dapat dengan mudahnya mempermainkan mereka, jangankan sebidang tanah yang kalian impikan, seluruh negeri hingga rakyat-rakyatnya pun bisa kita kuasai.”

“Tetapi bagaimana caranya?”, sebuah suara terdengar mempertanyakan.

“Ketahuilah sahabat-sahabatku, bahwa sebuah pohon akan mati jika kita mencabut akarnya. Begitu juga dengan negeri Z, kita harus bisa menguasai para pemimpinnya. Kita buat pemimpin-pemimpin mereka itu menjadi tikus di negerinya sendiri, tikus-tikus yang akan mengantarkan makanannya pada kita, tikus-tikus yang akan menjadi budak kita. Apalah daya rakyat biasa jika para pemimpinnya sudah kita kuasai, kita beri iming-iming selangit, kita tularkan gaya hidup busuk pada mereka hingga mereka benar-benar teperosok dan tak mampu keluar lagi.”

Maka segeralah dimulai peperangan itu. Sebuah peperangan dalam diam. Satu per satu pemimpin negeri Z itu mulai terperosok. Ekor-ekor tikus mereka mulai terlihat di sepanjang jalan. Seekor tikus memakai jas dan berdasi rapi. Sesekali mereka mengunjungi gudang beras, mengambil, menggerogoti, lalu menghancurkan. Mengunjungi bank, mengambil, menggerogoti, lalu menghancurkan. Mengunjungi tempat olahraga, mengambil, menggerogoti, lalu menghancurkan. Bahkan mencium-cium kitab suci, mengambil, menggerogoti, lalu menghancurkan.

Rakyat yang selama ini selalu percaya kepada pemimpinnya mulai merasakan gelagat tidak baik. Mereka merasa telah dikhianati. Tanpa terkendali lagi, seakan dalam sebuah gerakan yang masif, mereka mengungkapkan kekecewaan mereka dalam satu tindakan yang sama, mengambil, menggerogoti, lalu menghancurkan. Maka tampaklah kemudian, beribu-ribu tikus berdasi mondar-mandir melenggang dengan santainya sepanjang jalan. Jalan-jalan, gedung-gedung, sekolah-sekolah, bahkan tempat ibadah, menjadi makanan lezat mereka sehari-hari. Dimana-mana berantakan, dimana-mana bau busuk menyengat, dimana-mana tak ditemukan lagi tempat aman. Tikus-tikus itu mengambil dan menggerogoti untuk kemudian diberikan pada negeri lain yang mau memberinya imbalan yang lebih menarik. Mengambil yang bukan miliknya, menggerogoti yang bukan haknya, menghancurkan sesuatu untuk menghilangkan jejaknya.

Maka jadilah negeri yang aman tenteram itu sarang tikus yang menyeramkan. Begitu bau, gelap, dan kotor. Mereka telah kalah dalam peperangan. Sebuah kekalahan yang bahkan tak pernah disadarinya. Kisah tentang negeri elok yang makmur itu kini telah benar-benar menjadi sebuah kisah masa lampau yang hanya akan diceritakan pada anak-anak menjelang tidur mereka, agar mereka tidak lagi takut pada kotor, agar mereka tidak lagi takut pada gelap, agar mereka tidak lagi takut pada tikus dan tikus.

Sidoarjo, 26 Juli 2012

Kamis, 24 Mei 2012

Cerita Untukmu



Yah,
Tadi pagi aku menemukan keong di dekat sumur belakang. Kupandangi saja ia dari jauh. Ternyata ia melihatku, si keong tampak bengong dengan mata seperti menerawang; “gadis kecil ini, dulu bersembunyi di balik ayahnya, kini pun ia bersembunyi di balik pintu”.
Ayah, aku memang masih sering takut.

Yah,
Kuku-kukuku sudah mulai panjang. Tidak sampai kotor, apalagi menghitam, hanya lebih panjang. Tetapi jangan khawatir, kini aku sudah pandai memotong kuku. Meskipun tak serapih ayah dulu. Waktu itu, setelah ayah pergi, aku berusaha bisa segera potong kuku sendiri. Karena kalau sama ibu pasti sakit. Karena kalau tidak segera kupotong, nanti dimarahi sama buguru. Dan ayah tahu aku tak suka itu.
Ayah, apakah kalau kukuku panjang ayah juga akan marah padaku?

Yah,
Aku dibilang terlalu jahat sama nyamuk. Baginya, gigit dikit aja taruhannya nyawa, dimutilasi pula. Padahal kan aku hanya sedikit membela diri. Karena aku masih susah tidur ayah, jika suara mereka tak kunjung mereda. Apalagi kata ibu, ayah dulu juga begitu. Paling tak rela jika anak-anaknya diganggu.
Ayah, apakah nyamuk-nyamuk itu juga sering mengganggumu?

Yah,
Sebenarnya sejak tamat MI aku sudah mulai berhenti main kapuk. Bahkan selama mondok aku sudah tidak lagi main alis. Makanku pun sudah semakin cepat, tidak berjam-jam seperti dulu. Tapi akhir-akhir ini aku seolah diingatkan kembali dan ingin mengulanginya lagi. Aku mulai mencari kapuk dan alis. Aku mulai enggan makan dengan cepat. Aku mulai tak acuh pada orang lain. Hidupku seakan kupaksa untuk kembali menjadi seperti dulu lagi.
Ayah, aku ingin kembali ke masa itu. Aku hanya, terlalu takut.

Yah,
Satu per satu cita-cita kami tercapai. Aku tahu ayah pasti sudah tahu. Ibu senantiasa mendampingi kami Yah. Selalu. Sejak dulu. Foto-foto wisuda kami terjajar rapi di ruang tamu. Jepret kanan, jepret kiri, sedikit berlebihan, tapi menyenangkan. Ada ibu, mbah, pakpuh, semua terasa lengkap.
Momen yang indah Yah. Meskipun dalam hati sedikit terbesit, seandainya ayah juga di situ.

Yah,
Pagi ini aku bongkar-bongkar seluruh album foto di rumah. Sangat berdebu tapi aku buka satu-satu. Sedikit tertegun Yah, tak banyak kenangan kita bersama.

Yah,
Kalau saja kunjunganku hari sabtu-minggu dua puluh tahun yang lalu mengiyakan pintamu untuk tinggal lebih lama, tentu hari ini aku punya lebih banyak cerita untukmu.

by: Faizah Abdullah
Sidoarjo, 25 Mei 2012

Rabu, 14 Maret 2012

Menanti Ken Arok di Istana?

Beberapa bulan ini, entah mengapa, saya lebih suka mendengar dan menonton daripada membaca dan menulis. Dan semoga kali ini bukan sekedar tombo kangen saja, lebih dari itu sebagai titk awal untuk lebih istiqomah men-share dan berpendapat. Tema tulisan ini tiba-tiba muncul dan melintas saja di tengah-tengah karut marut proses membaca saya serial silat milik bapak SH. Mintardja, Pelangi di Singosari, dan beberapa berita di televisi tentang kondisi bangsa ini. Karakter Ken Arok sebagai penjahat yang punya prinsip tidak mau menyengsarakan rakyat kecil tampak lebih baik di mata saya daripada pemimpin dengan topeng tersenyum tetapi garang dibaliknya. Tulisan ini bukan untuk membenarkan setiap laku baik buruk Raja Singhasari itu, tulisan ini hanya sebagai media mengajukan pertanyaan balik pada kita sebagai bangsa Indonesia, apakah dinegeri yang indah dan kaya ini benar-benar harus menunggu seorang penjahat mengambil alih kekuasaan?

Ken Arok, bukan nama yang asing bagi sebagian besar masyarakat negri ini. Sosok yang berhasil memporak-porandakan “kemapanan” rakyat Jawa pada masa itu. Sosok yang di balik sikap garangnya memiliki alus bagi sang Ardhanareswari. Mungkin memang harus seperti itu adanya nyawa Tunggul Ametung berakhir di tangan Ken Arok. Bahkan mungkin sudah menjadi lakonnya tahta Singhasari kemudian digenggam erat olehnya. Karena nyatanya, Singhasari memerlukan sebuah perubahan yang sangat besar untuk mampu benar-benar menciptakan peradabannya.

Sebagai seorang maling yang kemudian mampu menggulingkan tahta kerajaan Kediri yang berkuasa pada saat itu, Ken Arok pastilah bukan sekedar maling biasa. Menurut beberapa kitab dan serat yang menceritakan tentang percaturan kerajaan Singhasari di tanah Jawa, disebutkan bahwa Ken Arok adalah putra Brahma dengan seorang wanita desa biasa, Ken Endog. Sejarah menyatakan, kehidupan masa mudanya begitu kelam hingga akhirnya ia ditemukan oleh seorang Bathara, Loh Gawe. Dari sang Bathara inilah ia mengenali putihnya hidup sebagai makhluk Tuhan. Ken Arok akhirnya menemukan jalannya kembali. Ia kembali berpacu untuk mendapatkan keseimbangan hidupnya yang pernah kelam. Akan tetapi sungguhpun seorang manusia berusaha menentukan jalannya, tetaplah yang Maha Kuasa sebagai Penentunya. Begitulah kiranya yang terjadi pada Ken Arok. Ia yang telah menemukan jalannya, pada akhirnya kembali tersesat. Ken Arok, yang muda yang menggelora. Terpikat pada sesosok anggun pujaannya, sang Ardhanareswari, putri dari Panawijen, Ken Dedes. Tak ada yang salah dengan perasaan seorang lelaki pada seorang wanita, tetapi yang terjadi adalah Ken Dedes telah menjadi permaisuri rajanya, Tunggul Ametung.

Fakta sejarah membuktikan, bahwa Ken Dedes kemudian memang ditakdirkan untuk Ken Arok. Sebagaimana Ken Arok ditakdirkan untuk Singhasari. Kesedihan atas kematian Tunggul Ametung nyatanya tidak berlangsung lama. Ken Arok, sang mantan maling yang menggulingkan rajanya dengan cara yang licik, yang pada awalnya hanya berambisi untuk mendapatkan Ken Dedes, ternyata benar-benar mampu menciptakan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Singhasari. Bahkan tidak hanya di Singhasari, setelah invasinya pada kerajaan Kediri membuahkan kemenangan yang gilang gemilang, kehidupan masyarakat Jawa pun semakin tertata. Tidak hanya di Tumapel yang kala itu menjadi pusat pemerintahannya, tapi hingga pelosok-pelosok desa. Kemampuannya membuka lapangan pekerjaan bagi segenap rakyatnya telah nyata berhasil menekan tingkat kriminalitas dan dominasi golongan penguasa. Ia mampu menciptakan manusia-manusia dengan kualitas hidup yang lebih produktif dan dinamis.

Ken Arok dengan segala hitam putihnya telah mencetak sejarah baru bagi rakyat tanah Jawa. Betapapun ia telah menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah, ia telah menebusnya dengan memberi kesejahteraan, kemakmuran hidup, dan masa depan yang lebih baik bagi rakyatnya. Karena memang kadang-kadang yang tidak bersalah harus menjadi korban. Menjadi tawur untuk masa depan yang lebih baik.

Kemudian lihatlah Indonesia kini, sebuah Negara yang dibangun dari berbagai macam peradaban kerajaan-kerajaan. Sebuah Negara yang harusnya prokoh tak gampang oleng oleh angin mamiri karena pondasinya adalah hati-hati baja para ksatria. Sebuah Negara yang harusnya lebih kokoh dan kuat karena ia adalah penggabungan kekuatan-kekuatan dari seluruh pelosok negri. Akhir-akhir ini, sadar atau tidak, Bumi Pertiwi dirundung kabut tebal. Hitam menggelayut di angkasa lara. Duka mendalam sedang melanda negri ini. Berbagai macam persoalan datang silih berganti tanpa ada satupun yang benar-benar teratasi. Dari bencana alam hingga bencana moral.

Nyatanya, setuju atau tidak, pertumpahan darah sudah terjadi. Rakyat kecil sikut-sikutan demi ngatong bulir-bulir padi dari langit. Di atas sana manusia saling tawur untuk kekuasaan, senggol menyenggol untuk segepok lembaran momok. Tanpa sadar nantinya itu semua hanya akan menjadi butiran debu. Melayang ke udara, mengotori bumi, memperkeruh hati, merusak tubuh. Mati-matian manusia mencari sesuatu yang tidak pasti dibawa mati, sementara yang pasti dalam hidup ini hanyalah kematian.

Tapi benarkah hanya sosok seperti Ken Arok yang bisa mengatasinya? Bukankah kita tak lagi punya Ken Dedes di istana? Dan apakah benar kita, pada zaman yang sekarang ini, akan membiarkan seorang mantan maling untuk memerintah? Karena, mantan maling, selain bisa menjadi orang yang benar-benar bertaubat, juga bisa menjadi seorang perampok. Dan tampaknya inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Ketika masih sekolah, maling waktu belajar untuk bermain. Menjadi pegawai, maling gaji kanan kiri atas bawah. Maka ketika jadi penguasa pun levelnya meningkat, sebagai perampok kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat.

Tentu saja kita tak ingin ada korban tak bersalah lagi dengan menghadirkan sosok Ken Arok untuk memerintah Indonesia. Karena kita telah jauh melampaui masa itu. Kita adalah bangsa yang besar dengan kearifan dan sejarah masa lalu yang gilang gemilang. Dan tentu saja, kita pun akan menciptakan cerita sejarah yang lebih indah untuk anak cucu kita. Sebuah cerita yang mampu membuat mereka tersenyum bangga. Benar-benar wangi hingga ke seluruh pelosok bumi.

Maka wajar saja jika beberapa diantara kita mulai murung dan bingung. Siapa yang mampu memutihkan Indonesia yang telah penuh dengan noktah hitam ini? Dan mungkin memang benar kita hanya bisa mengharap kejutan dari langit. Semoga tuhan mengampuni dosa kita dan nenek moyang kita yang telah banyak berkelahi demi kekuasaan yang hanya bisa ditentukan olehNya. Kalau mengutip dari tema pementasan teater perdikan di gedung Cak Durasim kemarin, kali ini kita hanya bisa mengharap Tuhan berkenan memberi bantuan dengan mengirimkan nabi atau rasul. Kalau tidak bisa nabi dan rasul yang sebenarnya, nabi darurat atau rasul ad-hoc pun tak mengapa…

Sidoarjo, 13 Maret 2012

Minggu, 25 Desember 2011

Menari

Semerta saja teringat sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh anak-anak KJD di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu yang lalu. Lagu dengan aransemen sederhana tetapi memiliki lirik yang luar biasa. Dengan memilih judul “Menari”, lagu ini tentu saja bukan hendak menceritakan tentang macam-macam tarian yang ada di negeri ini. Singkat cerita, lagu ini ingin mengatakan bahwa di dunia ini tak ada yang tak menari.

Semua yang ada di semesta ini melakukan tariannya masing-masing sebagai usaha untuk mencapai tujuannya. Karena menari berarti senantiasa bergerak. Menari berarti bergerak gemulai tapi pandai. Menari berarti bergerak lincah dan terarah. Menari berarti bergerak penuh seni yang falsafi. Bergerak sesuai dengan harmoni yang telah digaristuntunkan oleh Sang Gusti.

Mungkin kita pun pernah mendengar tarian sufi yang populer dengan sebutan tarian darwis. Tarian yang menurut ceritanya, penciptanya adalah seorang sufi besar Islam, Jalaluddin Rumi. Dengan gerakan berputar ke kanan, beporos pada satu titik tertentu, dan kepala menghadap ke atas, tarian ini seakan-akan mengisyaratkan bahwa walaupun akhirnya dalam hidup ini manusia sering terkecoh oleh ombang-ambing segala tetek-bengek urusan duniawi, pada hakekatnya Tuhan telah menggariskan sesuatu yang nyata dan jelas untuk dianut. Kaki yang berpijak pada satu titik pusat sebagai poros putaran yang bergaris lurus dengan kepala yang mengahadap ke atas, sebagai upaya seorang hamba yang senantiasa mengharapkan kerelaan Tuhannya.

***




Aku setuju saat kau bilang di dunia ini tak ada yang tak menari. Karena ternyata kaki tangan tubuh dan jiwa kita pun enggan berhenti. Menarikan satu, dua, hingga berjuta-juta. Menarikan rasa, rasa, dan segala macam rasa; bahagiatolol, sedihkecut, marah dan ramah di segala remeh-temeh karsa.

Kita menari saat bahagia sekaligus ketololan menyelimuti. Menari dengan berbagai macam cara yang dikenal. Ada yang menyanyi, meratapi, bahkan ada yang hanya sunyi. Menyanyi karena bersyukur, meratapi karena tak cukup berani untuk berbagi, dan hanya sunyi sebab mati tuk sekedar bersyukur sebagai tanda kunci hati. Dan kita tetap menari.

Kita pun menari saat sedih menghampiri. Menarikan lidah untuk bercerita dan mengumpat, menarikan mata untuk berlinang, menarikan tangan untuk bertekad menyempurnakan yang kurang, dan semoga sebagian besarnya menarikan hati tak berpamrih untuk lebih mengharap, mendekat, dan mencinta tanpa patah arang. Tentu saja, kita masih menari.

Kadang kita juga menari saat marah serta kecewa melanda. Bahkan ikut menari untuk rayakan pembelengguan massal dengan derita. Lihat saja manusia-manusia penggede kita di sebuah sudut kuasa. Tarian mereka vulgar dan nyata. Tarian lidah tangan kaki otak tapi tanpa hati. Walaupun begitu, kita tetap saja masih menari.

Apapun itu, kita semua menari. Menarikan tarian-tarian kehidupan. Diiringi irama syahdu rengkuhan Tuhan, dan kadang juga dengan irama sendu tangisan semesta atas ketidakharmonisan manusia atas hakekat jiwanya, dan kita terus saja menari. Menari ceria walau kadang juga lara.

Sidoarjo, 9 Desember 2011

Selasa, 25 Oktober 2011

Ruang Tunggu

By: Faizah Abdullah





Malam ini gelap, Tuan
Malam ini senyap

Masuk dan rebahkanlah
Akan kunyalakan lentera dan kugelar tikar pandan
Beberapa ubi rebus pun telah siap dihidangkan
Biarkan aku saja yang menunggunya malam ini
Karena malam ini gelap, Tuan
Malam ini senyap

Kau telah berdiri disini sejak tiga purnama lalu
Bertasbih dengan hitungan bintang-bintang beribu
Menatap tak berkedip pada ujung jalan yang berbatu itu
Mencari, menanti, termenung, dan senantiasa menunggu
Padahal malam ini gelap, Tuan
Malam ini senyap

Tengoklah sejenak cermin di ruang tengah
Akan kau dapati tubuhmu tak segagah dulu
Kulit dan ototmu tak lagi kencang memberangah
Tampak kantung ungu membiru di bawah matamu
Tapi kenapa kau tak juga mengaku kalah pada lelah
Sudahlah Tuan, malam ini gelap
Malam ini senyap

Malam ini memang gelap
Malam ini benar-benar senyap
Tetapi, adalah dia pelita
Adalah dia cita-cita
Haruskah kuberhenti menanti dan mencari?
Biarkanlah saja aku di sini
Meskipun malam ini gelap
Walaupun malam ini kian senyap

Malang, 18 Oktober 2011

Jumat, 29 Juli 2011

Episode Sri Vol. 3

By Faizah Abdullah



Sebuah pesta. Bergempul asap beraneka. Menggelut, melebur, menyatu. Sebuah bubungan menjulang di nirwana angkasa malam. Bercampur dengan lebat tebal kabut gunung tempat bertapa putra ketiga Dewi Kunti, Arjuna. Gempulan berbagai asap dan kabut itu menyelimut hangatpekatkan malam. Menutupsamarkan bintang dan rembulan. Asap obor berpuluh, asap kayu bakar, asap celeng hampir hangus, asap tembakau yang dihisapsemburkan oleh segenap manusia lupa. Seekor burung hantu bertengger di ujung dahan. Tak pernah berpura-pura membelalak, karena memang ia sudah begitu adanya. Seorang pengelana tua, mabuk dan termenung, tampak duduk disudut ramai. Menerawangkan sebuah saat di kala muda.

Di tengah khalayak, tepatnya di sekitar api unggun menyala, seorang muda gagah berseru meminta perhatian dari segenap manusia yang ada. Mungkin memang cukup tangguh ia dalam hal minuman keras seperti itu, terlihat dari berkendi arak yang telah dilahaphabis olehnya.

“Pesta ini adalah untuk merayakan keberhasilanku sebagai adipati baru di Linggabuana ini. Dan tentu saja, malam ini takkan pernah lengkap tanpa uji ketangguhan.” Pemuda itu berdehem, dan melanjutkan kembali, “Aku, Barapati Trunggojoyo, adipati Linggabuana, menantang siapapun dari kalian untuk adu olah kanuragan denganku. Siapapun kalian yang mampu mengalahkanku, kurelakan wanitaku padanya”. Ucapnya lantang.

Entah iblis darimana yang telah merasukinya. Asal tahu saja, istrinya adalah seorang yang bersahaja yang begitu dikagumi seantero Linggabuana. Banyak sekali pemuda, bahkan yang tua, yang begitu mendambanya. Kecantikannya tak mungkin diragukan lagi. Kecantikan yang mampu meluluh lantakkan hati setiap laki-laki yang berani menatapnya. Kecantikan yang pasti menumbuhkan benci dan cemburu setiap wanita. Kecantikan yang mungkin memang ia titisan para dewa, sehingga segala kesempurnaan bertumpu hanya padanya.

“Kau gila Bara!”, ucap seorang tua tak jauh dari tempat Barapati berdiri menyilangkan tangan, seseorang dari sekian banyak orang tua yang harus disebutnya sebagai paman.

“Kau berani manjadikan istrimu itu sebagai taruhan! Kau tahu apa jadinya jika kau kalah. Atau kau memang sudah ilang warasmu?” lanjutnya penuh amarah tak percaya.

“Aku memang gila paman Petingkir. Aku gila karena belum menemukan seorang pun yang mampu mengalahkanku. Aku belum pernah sekalipun menemukan lawan tanding yang seimbang dan menantang bagiku. Selama ini yang kutemui hanya manusia-manusia pengecut tak punya nyali karena memang mereka tak memiliki kemampuan untuk sekedar tanding olah kanuragan denganku. Aku mempertaruhkan wanitaku, Sri Kumala Rajapadni, karena aku tahu aku tetap yang terhebat. Hahhahahaha..”

Petingkir pun mencoba mamahami pergulatan hati yang dialami oleh kemenakannya itu. Sejak kecil ia tumbuh dan dewasa dengan kehidupan yang sangat berat. Sebagai seorang anak yang tak pernah mengenal ayah dan ibunya karena lebih dulu meninggal di tangan seorang kejam bernama Gadawesi dalam sebuah pertempuran berdarah, ia ditempa oleh kakek dan paman-pamannya mendalami olah kanuragan tak berujung. Siang malam tiada henti ia berlatih. Semula tak ada yang tahu apa yang menyebabkannya begitu semangat dalam latihan, hingga suatu pagi, ia pulang dengan menenteng sesuatu yang dibungkus dengan kain sarungnya, kepala Gadawesi.

Rupanya ia marah. Ternyata ia dendam. Sekian tahun cercaan dan makian anak-anak teman sepermainan yang menyebutnya sebagai anak pungut. Dan ia pun menenggelamkan diri dalam latihan tak berujung. Kemampuan olah kanuragannya tak perlu dipertanyakan lagi, ditempa oleh begitu banyak guru. Ditambah kecerdasannya yang mampu menggabungkan begitu banyak ilmu menjadi sesuatu yang tak tertandingi. Para gurunya sudah melepasnya, mengangggapnya telah cukup mampu untuk mengangkat muka di tengah masyarakat yang selama ini mencibirnya. Kemampuannya telah melampaui guru-gurunya, kemampuannya tak lagi terukur oleh kasat mata. Maka jadilah Barapati saat ini menjadi seseorang yang selama ini diinginkannya.

Barapati, untuk menjadi seorang adipati ternyata harus menggadaikan kejujuran dan kebaikan hatinya. Walaupun memang adipati Linggabuana sebelumnya adalah seorang yang keji dan seorang penguasa lalim, tapi bukan berarti ia pun harus dibunuh dan dicincang untuk kemudian digantikan oleh sang pembunuh, Barapati. Bisa jadi warga yang mengelu-elukannya pun terlena oleh kemenangan pahlawannya, hingga tak menyadari akan adanya sebuah kemungkinan nestapa mereka kan terulang. Bahwa seseorang yang mampu membunuh seorang keji juga berpotensi menjadi keji. Dan semerta Petingkir sang paman pun tersadar, bahwa peluang adanya seseorang yang mampu menghabisi Barapati pun tak pernah tertutup. Ia telah bermetamorfosa manjadi seperti itu. Barapati telah mengambil sikap atas hidupnya, maka biarlah ia juga yang menerima konsekuensi atas sebuah pilihan. Tak ada guna lagi beradu argumentasi dengannya yang tengah kalap.

Sambil berlalu Petingkir menepuk bahu Barapati, seraya berucap, “kau takkan pernah tahu apa yang akan terjadi”.

….

Satu persatu manusia-manusia di sekelilingnya menjadi sedemikian kalap dan beringas. Berpacu berlomba mengadu kemampuan tak berbendung tak berbatas. Sekian puluh pendekar dari segala penjuru beradu untuk mendapatkan hadiah terindah. Seorang wanita yang paling diidam-idamkan seluruh pelosok nagari. Menghantam, meninju, mematahkan tulang, bahkan membunuh sekalipun mereka siap. Barapati pun tampak bahagia mendapat sambutan meriah dari para tamunya itu. Mereka meladeni tantangannya dengan senang hati. Sebuah adu kemampuan yang mematikan itu pun sepadan dengan hadiah yang dijanjikan.

Sementara itu, disudut bilik bambu bercahayakan ublik sambu, seorang wanita muda menangis sesenggukan di pelukan embok paruh baya. Dialah Sri Kumala Rajapadni, wanita sang adipati. Seorang yang kini nasibnya seakan tak mampu ia kendalikan sendiri. Hidup yang dulu ia serahkan pada seorang pemuda tangguh penuh kasih sayang, kini benar-benar harus digadaikan dan dipermainkan. Sang pemuda, bermetamorfosa menjadi sosok yang tak bisa dikendalikan lagi. Segala ucap cinta, semua sikap sayang, dan seluruh tetek bengek perhatian atas sebuah konsekuensi rasa, sekejap saja lenyap, hangus, terbakar oleh api dendam, ambisi dan amarah. Semuanya menjadi asap terbang ke atas ditiup angin hingga ke awan pun tak mampu. Sang kekasih telah membuktikan kepada dunia, setidaknya pada dirinya, tak pernah pantas seseorang menyerahkan diri begitu saja pada siapapun yang tak berhak. Ia menangis akan hilangnya sebentuk rasa yang dulu ada. Ia tersedu pada tak berbalasnya pengaduan di malam-malam sendu. Ia memerah meradang, bahwa kekasihnya kini menjadikannya sebagai taruhan adu kemampuan durjana.

“Menangislah nduk ayu, menangislah. Tumpahkan segala kecewamu. Andai kau izinkan nduk ayu, dari dulu telah kumatikan pemuda yang kau puja itu. Biarkan racunku menghancurkan setiap urat sendi tubuhnya yang telah bahu membahu menyakitimu. Tapi kau melarangku nduk. Dari sejak pertama ia menyakitimu, telah kusiapkan racun itu baik-baik di tanganku. Tapi kau selalu melarangku. Berhentilah menjadi pahlawannya nduk. Ia telah membuktikan dirinya menjadi manusia kejam dan lupa.” Ujar simbok terhanyut dalam biru.

“Aku memang pernah salah karena lebih memilihnya daripada patuh pada ayahanda. Maka aku tak mau mengulang salahku lagi mbok, aku tak mau berpaling dari suamiku. Aku mencintainya, meskipun ia kini tak begitu adanya. Aku menyayanginya, walaupun tak kutahu kini bagaimana ia. Aku akan selalu setia padanya, hingga suatu masa saat ia kembali datang mencinta akan adanya aku. Aku tahu itu akan terjadi, kalaupun tidak seperti itu, aku akan tetap menunggu.” gumam sang wanita muda di sela isaknya.

“Tak ada lagi yang bisa kulakukan di sini mbok. Suamiku tak lagi mengharapkanku. Saudara dan rakyatku hanya mengelu-elukan kecantikan dalam ketidakberdayaanku. Biarkan aku pergi menyambut sunyi. Mungkin memang hanya cukup seperti ini garisku bertahan bertahan di sini. Ikhlaskan aku berlalu dengan membawa pilu. Dan untuk dia, matahariku, cukup sampaikan salamku.”

“Oalah nduk ayu, aku tak bisa menahanmu untuk tetap tinggal. Pergilah jika itu memang bisa mengembalikan sebentuk senyum di parasmu. Berangkatlah bila itu memang mampu meredakan kecewa di hatimu. Semoga Gusti kan akarya jagat memberimu selamat. Dan untuk Barapati tuanmu, akan kusampaikan salammu.”

…..

Di pucuk gelisah aku tetap menapaki jalanku. Memang sunyi karena aku sendiri. Memang sepi karena tak ada kau kini. Semerta saja aku mengenali satu masa diujung kembara rasa. kau mengenalku sebagai sosok tak bercelanoktah. Setitik setetes tak tampak tak terasa. Begitu rupawan mempesona tiada tara. Kulewatkan saja, barangkali kau sedang berharap cipratan sahaja. Kubiarkan itu berlalu, mungkin kau kan bangun lagi dari tidurpingsanmatimu. Detikmenitjamhari, masih tetap sama. Detikmenitjamhari, tak jua berubah. Aku pun goyah. Dan kutunggu lagi. Hariminggubulantahun, kau tetap teguh. Hariminggubulantahun, membara dalam diam. Aku luluh, tersimpuh, pertahanan benar-benar runtuh.

Tetapi memang berhenti di tahun adaku untukmu. Tak kurang, apalagi lebih. Karena memang di luar kuasaku, teguhmu luntur begitu saja di mataku. Kau tetap kokoh, tapi tak lagi prokoh. Kau tetap sangar, meski semakin samar-samar.

Sebuah keputusan untuk merampungkan sebentuk kisah. Kau lenyap menjadi asap. Maka akulah angin, berhembustiup ke segala penjuru kutub. Membawamu dan segala tentangmu ke awan. Membumbung, melambung, berarak, berjarak. Hingga semesta pun mengerti, bahkan mengenali, inilah cerita sang budak dunia.


Malang, 16 Juli 2011

Senin, 13 Juni 2011

Salah Desain

By: Faizah Abdullah




Sepertinya mereka memang salah memilih desain
Sebuah rumah kotak di pinggir pasar dan jalan besar
Mereka bilang itu dinding; perpaduan triplek dan seng dengan beberapa ventilasi kecil sebab rayap, lepuh, dan karat
Tak pula pandai mereka memilih cat; tampak bermacam poster warna-warni tertempel ngawur berlembar-lembar
Mereka bilang itu pintu; segupil celah sempit, menempel pada dinding dengan engsel sekedar
Mereka bilang itu atap; walaupun panas hujan tetap menjadi sahabat

Tapi mereka tak mungkin mengakui telah salah desain
Meskipun tampak kontras dari menjulangwarnawarni istana sebelahnya
Pagar besi kokohtinggiantikarat, seakan ada ratusan macan di dalamnya
Taman hijau dibentuk bebekgajahkambingular, macam kebun binatang rupanya

Rumah kotak itu, anggap saja, tak pernah salah desain
Mungkin sang arsitek si pemilik memang senang berkawan panas dan hujan
Atau mungkin sang arsitek si pemilik sedang mencoba untuk bisa selalu berkawan dengan panas dan hujan
Mungkin pula sang arsitek si pemilik tidak bisa untuk tidak senantiasa berkawan dengan panas dan hujan
Walaupun mungkin juga sang arsitek si pemilik memang rendah hati, tak gemar sesumbar, bahwa ia tak suka dengan panas dan hujan

Malang, 12 Juni 2011

Episode Sri Vol.2

By: Faizah Abdullah

Namaku Sri. Tapi aku bukan Sri itu, yang dulu saat kelas empat SD selalu kau bikin malu. Aku adalah Sri yang baru. Seorang Sri yang bekerja di pabrik sepatu. Dan membenci hari minggu.
….
Berharap sang ayam mengubah jadwal kokoknya di pagi hari, atau paling tidak nadanya, yang kian hari terdengar kian nyaring dengan tanpa tedeng aling-aling. Rohku yang sedang menyanyi menari dalam buaian mimpi pun dibuat terengah untuk berusaha berpaling. Aku dan rutinitas hariku yang seakan tak mau digantikan sang waktu. Enam hari dalam seminggu aku mematuhtaati bergelut dengan sepatu. Kini, tiba saatnya untuk kembali menata hati, bersua dengan minggu. Hari ketika trauma masa yang dulu tergambar jelas di kelopak mataku. Dekat, erat, seakan kian merapat.

Tak ada yang salah dengan hari minggu. Satu hari yang dinobatkan sebagai hari santai internasional. Bersantai karena lepas dari rutinitas seminggu lalu. Bersantai karena menjadi masa untuk berbagi resep masakan baru, bercanda di binatu, bertawa riang di outlet- outlet sepatu, bertanding di lapangan berdebu, atau sekedar bercumbu dengan timbunan bantal beludru. Hari minggu, walau bagaimanapun, tetap ditunggu. Pak Sangi tetanggaku, seorang tukang becak tua yang sejak aku kecil dulu hingga kini tak pernah mau melepas sadel becaknya, tetap menunggu datangnya hari minggu. Ia yang mangkal di pertigaan jalan raya mengaku berpenghasilan lebih di hari minggu.

Pada hari minggu kuturut ayah ke kota
Naik delman istimewa kududuk di muka
Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendarai kuda supaya baik jalannya
….

Sebuah lagu kanak-kanak yang sangat berpengaruh sepertinya. Maka semenjak pemerintah melarang delman berkeliaran di jalan-jalan kota, para tukang becak pun mempunyai peran cukup tata.

Seperti yang kukatakan tadi, namaku Sri. Aku bekerja di pabrik sepatu, dari hari senin hingga sabtu. Dan aku membenci hari minggu.

Semenjak kepergian bunda, saat itu aku baru duduk dikelas empat di sebuah SD tak jauh dari rumah, keluargaku hanya menggantungkan hidup pada pensiunan ayah. Ayah yang sakit –atau mungkin memang benar-benar “sakit”, istri ayah –ibu- yang –mungkin pedagang rotan, dan anakistriayah –saudaratiriku- yang –entah. Aku sudah harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan ketiga perut yang senantiasa menunggu; ayah, ibu, dan seorang saudari. Saudari yang kudapat dari istri ayah, dan tak pernah bisa berbeda dari sang ibu. Tidak ada masalah bagiku memiliki adik baru yang cukup bengal, karena aku merasa telah cukup lama menjadi putri tunggal. “Apa salahnya berbagi”, pikirku di suatu pagi ketika kudapati pita pink ku, untuk kesekian kalinya, “pergi”.

Bundaku pergi di hari minggu, tanpa seorang pun tahu ia tergeletak layu. Maka kala itu aku berhenti bermain di hari minggu. Aku tak ingin melewatkan sedetiksaat pun dari hari minggu, karena tak ingin lagi bunda, dan bunda, dan bunda, dan… bunda, milikku, pergi, berlalu. Semula kusenang dengan keputusanku, hingga suatu pagi, di usia 11 ku yang dini, ayahku pulang dan menjejalpaksakan nafsunya pada si kecil aku, tanpa mampu raga ini berlaku,, aku semerta ingat, hari itu, hari minggu.

Setahun kemudian ia menikah lagi, di hari minggu. Dasar ayahku sakit! istriayahku sakit! anakistriayahku sakit!. Maka jangan salahkan aku, jika aku sakit di hari minggu. Hingga suatu siang, aku termangu oleh ulah rotan sematkan memar tangan, paha, punggung, dan entah yang mana lagi, aku telah lupa, yang kuingat, itu semua diawali dihari minggu. Sejak saat itu, aku benci hari minggu. Mingguku selalu kelabu, my Sunday is always so blue.

Kalau saja namaku bukan Sri, maka aku akan berhenti bertahan. Kalau saja namaku tak diawali dengan “Sri”, maka aku akan menolak untuk tersenyum menawan. Kalau saja namaku bukan terdiri atas tiga huruf; s, r, dan i, maka aku akan memilih untuk diam dalam enggan.

Karena namaku Sri, bukan pecundang. Karena namaku diawali dengan “Sri”, bukan penjual tampang. Dan karena namaku terdiri atas tiga huruf; s, r, dan i, bukan *, *,dan *.

Malang, 22 Mei 2011

Minggu, 01 Mei 2011

Parade Senyum

Permisi mas permisi
Permisi mbak permisi
Kulo bade ngamen ten mriki
Tapi sayange kulo mboten saget nyanyi
Nyanyi kulo nggeh ngeten niki
Hahahaha,
Saking isin bade nedi
Satus rongatus nggeh kulo terami
Hehehehe,
….

Aku semakin menikmati saja perjalanan ke-33 mudikku. Bukan sekedar faktor tuntaskan rindu di rumah, tapi juga adanya konser jalanan tak kunjung usai dari awal naik bus hingga berakhir di terminal. Kali ini, giliran pak tua dengan krencengan dari tutup botol minuman yang unjuk gigi. Meskipun, tampak jelas di sana, giginya tak mau kompak, malu-malu tak mau muncul bersamaan. Sesekali di sela-sela nyanyiannya –lebih tepat disebut ocehan– ia tertawa, hahahaha, terkekeh, hehehehe, seolah tak mau tahu dengan panasnya dunia dan bahkan telinga. Dalam mukadimahnya, pak tua mencoba jujur dengan tidak mau menyanyikan karya orang lain karena belum meminta izin, selain dia pun tak bisa. Syair gubahannya pun terdengar mengenaskan karena tak bernada, tapi kekehannya di tengah lagu itulah yang memunculkan senyum kami tak sengaja. “Ocehan” pak tua di bus Restu jurusan Surabaya-Malang, aku mengenangnya. Sebuah teguran ditengah krisis kejujuran.

Senyum hari itu semerta mengingatkanku pada sosok pak tua lain. Seseorang yang tiba-tiba datang ke rumah, dengan gigi yang juga enggan kompak, menawarkan sapu panjang pembersih sawang. Tak ada niat membeli sebenarnya kalau bukan karena wajah letihnya yang kentara. Dia kembali lagi setelah celingak-celinguk tak ada orang di masjid sebelah rumah. “Niki nitip amal damel mesjid”, ucapnya seraya menyerahkan satu buah sapu panjang dagangannya. Senyumnya ini memang tak jauh berbeda. Dengan memanggul ke-11 buah sapu panjang di pundak kanan, dan tas kresek besar berwarna merah di tangan kiri, ia berlalu menyisakan malu. Karena banyaknya yang lupa bahwa “sapu” pun mampu menderma tanpa ragu

Sementara senyum lain pun mengembang di suatu tempat tak jauh. Seseorang berjas rapi menggumamkan seru di balik meja kerjanya. Kumis tipis di atas bibir dicukur rata agar tampak senyum ramah penghasil simpati pada sosoknya. Ia tersenyum tertawa terkekeh dan terbahak oleh teriakan massa dalam demonstrasi sudi lengser dirinya. Ia tersenyum, karena pundi emas ke-41nya baru saja tersimpan apik di kolong kasurnya. Ia tersenyum, karena angka di rekening tak akan pernah membiarkannya pening. Ia tersenyum, karena merasa ialah penguasa tak mempan unjuk rasa.

Maka biarkan saja senyum itu ada. Maka jangan hiraukan senyum kini meraja. Karena memang senyum tak pernah karena duka. Senyum tercipta sebagai ungkapan bahagia. Bagaimanapun bahagia itu menyisakan luka, akan tampak pada senyum siapa.

Malang,31 Maret 2010

Senin, 21 Maret 2011

18032011

Pagi ini aku baru saja mendeklarasikan pernyataan teranyarku tentang mati. Bahwa mati tak selamanya harus menyeramkan hingga dihindari berjuta mil jauhnya. Bahwa mati tidak semuanya mampu tampak mempesona dengan wajah anggun dan bersahaja. Karena mati juga bisa lucu dan keren seperti adanya kita. (Weewwww !!)

Hahaha..

Aku tertegun ketika seorang kawan yang ternyata setelah kupikir-pikir kami setiap hari bertemu, menelponku di pagi buta, atau malah sangat buta karena masih pukul 3.30, dan bilang kangen padaku (WHAT ????). Aku terbahak pastinya karena tak menyangka kawanku yang satu ini sebegitu lebaynya. Dia pun mengajakku dan kawan-kawan yang lain untuk berkumpul seperti biasa di kampus pukul 8 tepat. Tidak ada yang boleh telat. Di tempat dan waktu yang telah disepakati, aku dan kawan-kawan yang lain sudah berkumpul sambil nggedabrus tanpa ujung sambil menunggu kawanku yang satu itu. Satu jam, dua jam, sampai lima jam menunggu tidak datang juga, kami pun bertanya-tanya apa yang terjadi, karena telpon dan sms hanya dijawab singkat. Kami pun pulang, dan semerta lupa pada penantian barusan.

Seminggu kemudian aku bertemu dengannya. Seperti biasa, penyakit lebay alay ndak karu-karuan kumat lagi. Dan dengan alasan belum siap bertemu aku pada ide ngumpul kemarin, ia memulai ceritanya. Malam itu ia bermimpi; tentang aku kala telah datang bagiku sang Waktu. Dalam sebuah drama tragis yang hanya mengorbankan aku. Terisak ia melihatku tersenyum dalam balutan mori. Ditambah lagi ketika mayatku merasa lelah dengan posisi terlentang dan mulai mencari kenyamanan dengan sedikit miring ke kanan. Ia pun dibuat terbirit oleh mayatku yang ternyata hanya butuh sedikit pijatan lembut (hehe..). Dan ternyata setelah ganti posisi itulah kawanku itu akhirnya bisa bangun dari tidurnya, karena saat itu mori penutup kepala mayatku terbuka, tampak dua kuncir menyembul tak sengaja. Ia pingsan dalam tidur, tapi kemudian bangun dari tidur.

Hemmm….

Parah,,

Malang, 18 Maret 2011

Jumat, 11 Maret 2011

Episode Sri


Semerta teringat akan satu iklan televisi program belajar pemerintah saat kecil dulu. Bernamakan sama, persis, tidak beda, atau apapun itu, dengan namanya, Sri. Terkesan kampungan untuk duniaku saat ini. Tapi itulah, nama terindah yang singgah di benak sang bapak dan emak kala itu. Semesta mereka percaya bahwa Sri adalah dewi kesejahteraan. Maka ia pun memutuskan untuk menurut saja dinamai itu. Tapi nyatanya sang dewi juga harus bermetamorfosa sesuai dengan jamannya. Karena Sri kecil dalam iklan itu harus menjadi tumbal sejahtera lingkungannya. Karena Sri sang menteri pun harus berhenti dipuja. Bahkan Sri yang ini juga harus selalu dikejutkan oleh nestapa.

Sebening embun suatu hari kubertatap ayu senyumnya. Seraya mengulurkan tangan terdengar sapa manis, hingga aku pun terhanyut dalam canda seolah tak pernah ada lara singgah dalam jagatnya. Lincah mata dan tangannya saat bertutur mengkisahkan sebuah mendung di balik semua pelangi di wajahnya. Aku pun tertegun dalam kagum. Setegar inikah karang di lautan? Sesempurna Sri-ku kah bidadari di khayangan? Maka hari-hariku pun diriuhkan oleh decakan-decakan kagum pesona ketegarannya, hingga suatu senja berdebu kutemukan ia kelabu. Wahai Sri-ku sayang Sri-ku malang, kiranya kau hendak meremukkan galaumu, telah kusiapkan jiwa ragaku bersamamu. Tuangkan segala gundah resahmu dalam cawan hatiku, kan kulebur semua itu dengan gula kasih pemberianmu dulu.

Percayakah kau akan sejatinya rasa? Sri mengingatkanku akan rumitnya hal itu. Dalam sedu sedan tangisnya, aku menjerit untuk lara. Akankah aku berhenti percaya pada ketidakabadian rasa? Padahal Sri-ku kini sakit karenanya. Wahai kau yang telah memercikkan api bara, lihatlah Sri-ku sayang Sri-ku malang. Dari bawah bantal basah penuh airmata kutemukan penyakitnya:

Goblok !!
Susah sekali membuatmu mengerti,
Aku tak tercipta dari batu yang kan terkikis saat kau ulur-ulur waktu
Kau suka sekali bertele-tele dalam basa-basi yang semakin basi
Tak bisakah kau bertindak cepat menggapai maumu tanpa banyak memikirkan strategi yang seakan selamanya hanya akan menjadi strategi tak bergigi
Aku lelah,
Jangan buat aku terlarut dalam lelah
Hingga akhirnya kan kuanggap kisah kita telah kalah
Setemaram senja hatiku menghamba pada cahaya samar
Karena tak kusangka akan banyak mata mencintanya dalam binar
Maka kuputuskan untuk menurut dan kalah dalam nanar.

Maka aku pun tak pernah menyesal untuk tidak berhenti percaya, bahwa tak ada yang abadi dalam fana, apalagi hanya sekedar rasa.

Malang, 11 Maret 2011

Selasa, 22 Februari 2011

38 HARI

Aku meminta izinmu kawan, untuk menceritakan pada dunia tentang 38 hari milik kita, yang mungkin takkan tuntas dilukiskan kata-kata. Jikalau ada sesal kawan, aku bertaruh dengan istana imajinatifku, akan kuremukkan setiap bata dan batunya yang tertata, untuk kujadikan bunga terindah dalam hatimu. Karena 38 hari itu nyatanya telah benar-benar menjadi kenangan paling ingin diulang. Setuju atau tidak, 38 hari kita terdiri atas 3 fase. Sekali lagi, Setuju atau tidak, ketiganya terarah pada satu kepastian: indah.

Ingatkah kau kawan, dalam harap dan cemas menunggu datangnya suatu masa ketika kita benar-benar harus bersama. Saat ia datang, tentu saja ceria menggelora, bahagia membadaitopankan lara, hingga dengki dan benci lenyap entah kemana. Pada saat itu, tanpa kita sadari bahaya mahadahsyat mengintai. Bahaya ego pun membuncah, merasa paling benar dan hebat. Inilah fase AKU. Segala selain dirinya hanya nothing dan will never be a thing. Menafikan semesta kawannya untuk mempercantik semestanya sendiri. Bertopikkan “AKU”, kita tetap tertawa dalam canda, menertawakan semua yang tak mau masuk dalam“AKU”. Bahkan sekedar bersapa dengan “KAU” atau “DIA” pun enggan. Maka kemungkinan yang ada adalah 38 hari kita menjadi “MILIKKU”. Tak ada lagi ruang bahkan kesempatan untuk yang lain. Selamat datang dalam dunia bencana ego.

Sebenarnya tak terlalu parah dampak yang ditimbulkan oleh salah itu. Hanya mungkin dosis yang kita pakai terlalu tinggi. Maka tentu saja nggliyeng dan puyeng tak segan lagi menghampiri. Program kerja tak matang dijadikan alasan. Sikap tidak tanggungjawab menjadi kambing hitam. Ditambah lagi dengan berjuta “karena”, sehingga selainnya pun menjadi tumbal. Malam kita tak pernah dingin kawan, malam kita penuh sesak dengan kata “ingin”. Kalau anggrek yang menempel pada mangga itu diizinkan bersuara, tentu yang terdengar adalah “J****K !!!!”, karena ternyata, kita tak pernah memberinya kesempatan untuk mendengarkan cerita indah kita, pujian manis kita. Yang ada hanyalah pertarungan angkuh dan arogansi. Koordinasi yang benar-benar mencipta frustasi. Sekali lagi kawan, jangan buat salah ini menjadi alasan untuk selalu terpuruk. Asal kau tahu, inilah fase KAMU. Semakin kita memaki, semakin kita mencari tahu sifat dan tabiat seorang kawan. Kita baru memulai untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Walaupun tampak terlalu ekstrim, tapi itulah kenyataannya. Topik kita adalah WH Question; what, who, where, when, why dan how. Pertanyaan yang sama setiap hari; apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana. Tentu saja, dalam fase ini yang menjadi objek utama adalah “KAMU”, bukan “AKU”.

Kalau saja 38 hari adalah sebuah ajang pencarian bakat seperti yang sedang marak akhir-akhir ini, tentulah kita pemenangnya. Bagaimana tidak, begitu banyak bakat rahasia dan dirahasiakan yang akhirnya terkuak. Kita memaksa diri kita sendiri untuk bisa. Tidak bisa tidak, karena kita memang harus selalu paling bisa. Mengesampingkan keAKUan dan keKAMUan. Sebuah spirit untuk menciptakan “AKU” dan “KAMU” yang serba bisa. Kalau bukan karena gengsi kau sudah menasbihkan KITA dalam AKU dan KAMUmu. Tapi itulah, kita sedang berada dalam masa transisi paling kejam. Karena harus membunuh dan meleburkan diri dalam KITA. Inilah akhirnya fase KITA. Berusaha menyatu dan bersama berseru: 38 hari ini milik KITA !!.

Adakalanya kita bersatu bukan karena berada dalam satu wadah, melainkan karena berada dalam satu konflik

38 hari yang dulu ditunggu datang dan perginya
38 hari ego ditempa dalam balutan amarah serta canda
38 hari untuk menemukan KITA


Sidoarjo, 21 Februari 2011

Kamis, 17 Februari 2011

booom,

Mungkin memang terlalu jauh ia melangkah keluar, hingga batas bahaya pun dilanggar. Ia berteriak marah pada kaki tanpa mata yang tak sengaja menginjak. Maka aku pun tunduk pada erang dan merah padam dendam. Terkungkung dalam jeruji bara kecewa bahkan sesal. Tahukah kawan? Putih tak pernah benar-benar putih jika tanpa hitam sebagai pembanding, dan begitu pula sebaliknya. Tak pernah ada antagonis dalam hidup kecuali jika kau ciptakan protagonisnya. Tapi ingatlah, protagonis pun tak pernah tercipta sempurna karena tanpa cacat. Kesempurnaan hadir dalam warna-warni yang kau pilih tuk dampingi sang putih. Biarkan sang pipit keluar sarang tuk belajar terbang, ketika ia terantuk dahan jangan pernah kau salahkan, tolonglah ia, karena bahkan mengepakkan sayap pun butuh keberanian.

Seekor elang berang oleh cucuk paruh pipit terantuk ketika belajar terbang. Pipit kecil tak pernah ingin dikasihani, tapi tajam mata elang menyambar segala keberanian yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Pipit kecil mengaku salah karena gagal kepakkan sayap, tapi elang terlanjur geram atas secuil laku lemah dan mungkin bodoh tak ditolerirnya.

Minggu, 26 Desember 2010

Ram,

Seorang kawan bertanya di suatu subuh berembun,

“Tahukah kau tuan raden yang membahasakan rasa?

“Ya, aku tahu”, jawabku.

“Maukah kau menyampaikan salamku padanya, betapa kumerindu beribu tahun lamanya”.

Aku tercenung direnung. Haruskah kuangkat belati menikam sukma agar radenku tak perlu dimiliki siapa.

Minggu, 07 November 2010

Kita Ada Karena Cinta

Kita ada karena cinta.

Aku menemukannya tak sengaja dalam endapan pemahamanku akan cinta. Bahwa kita ada karena cinta. Diawali dengan cinta Sang Maha memiliki cinta. Memberi kesempatan untuk bersyukur. Menjadi khalifah kepercayaanNya. Mengembalikan cintaNya dengan kembali mencintaNya. Bernafas, bergumam, berlaku, semua atas nama cinta.

Cinta ayah bunda yang dianugerahkan Sang Pemberi cinta. Mengasihi, melindungi, memenuhi segala butuh, dengan penuh cinta. Dari rahim penuh cinta bunda kita lahir. Dari setitik sperma cinta ayah kita berasal. Mengayomi, mendidik, mengajari kita dari hal sekecil apapun hingga hal-hal yang luar biasa, semua karena cinta. Jika mereka marah, tentu karena cinta. Jika mereka bahagia, pasti sebab cinta. Karena cinta mereka berasal dari mata air cinta keabadian. Mata air cinta Tuhan.

Untuk saudara, sahabat, dan terkasih, atas sebentuk cinta. Mewarnai pelangi hari dengan riang dan muramnya. Meniupkan sengkakala semangat di hari-hari kelam. Menghembuskan nafas kesetiaan dalam payung surga. Selalu ada dalam cinta.

Para pahlawan yang mulia, kami haturkan salam sanjung kami. Atas cintamu, kau bebaskan kami dari pilu ketidakmerdekaan negeri. Wahai pahlawan yang terhormat, kami angkat topi atas segala jasa cintamu pada negeri ini, pada kami, generasi negeri berlimpah cinta, para penerus bangsa.

Kepada tuan-tuan penjaga rel kereta api, pemantau aktivitas laut dan gunung berapi, pemadam kebakaran, dan semua kalian yang telah menjaga kami atas nama cinta. Kami tahu itu tak sekedar karena sesuap nasi pengganjal perut, atau mungkin ungkapan pengabdian diri pada negeri yang sedang sakit ini, tapi lebih karena cinta. Cintamu pada pekerjaan. Cintamu pada kami, orang-orang yang bahkan seringkali lupa akanmu. Cintamu pada Ia yang telah memberimu kedahsyatan cinta.

Kawan, sekali lagi,

Kita ada karena cinta.

Selasa, 21 September 2010

Menyikapi Sebuah Kehilangan

Sebuah kehilangan yang masih menurut kita bukan berarti kehilangan yang sesungguhnya. Karena manusia seringkali menganggap segala miliknya adalah benar-benar miliknya. Tak sadarkah kita bahwa kita tak memiliki apapun, bahkan diri kita sendiri. Kita hanyalah setitik debu yang diciptakan Tuhan, yang kemudian dilengkapi segala kebutuhan dan keinginannya sebagai sebuah pinjaman. Apa yang kita miliki saat ini dalah pinjaman dariNya, yang suatu saat pasti akan diambil kembali. Karena ketidaksadaran, keserakahan, dan ketidakmengertian itulah kita lebih senang untuk mengklaim apa yang ada pada diri kita saat ini sebagai milik kita dan dihasilkan oleh kita sendiri. Sehingga ketika mereka diambil atau lebih tepatnya diminta kembali,kita menganggapnya sebagai sebuah kehilangan.

Kematian, kecurian, kebangkrutan, dan lain sebagainya yang sering disebut sebagai penyebab hilangnya sesuatu dari kita menjadi sesuatu yang ditakuti. Segala macam cara di upayakan untuk menghindar dan menjauhkan diri darinya. Kita memang dituntut untuk ikhtiar menghindari sesuatu yang dapat merugikan diri kita, tapi tidak lantas melupakan pasrah dan tawakkal untuk kemudian percaya pada penjagaan Allah SWT.

Sebuah kesadaran akan muncul ketika kita menyikapi sesuatu yang menurut kita adalah sebuah kehilangan sebagai sebuah pinjaman yang diambil kembali oleh sang pemilik. Seperti halnya ketika kita meminjam buku pada seorang teman untuk kemudian pada saatnya nanti pasti akan dikembalikan.

Pernahkah kau mengira bahwa ia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Sebuah lyric dari Letto seakan mengiyakan pemahaman kita. Bahwa ketika kita menganggap sesuatu itu adalah milik kita, maka adalah sebuah kehilangan yang akan kita rasakan. Akan tetapi ketika kita menyadari bahwa tak satu pun yang ada pada kita saat ini adalah milik kita, hati akan lebih khusyuk dalam tunduk untuk berkata inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepadaNya kita kembali.

by: Faizah Abdullah